Update  By Editorial Desk

Ekspor Sawit dan Batu Bara Tergerus Secara Volume, Surplus Perdagangan Rawan Tertekan

06 September, 2026

Surplus perdagangan Juli 2026 mencapai US$120 juta, tetapi ekspor komoditas unggulan masih menghadapi tekanan volume pengiriman.

Ilustrasi kelapa sawit dan batu bara - NEXT Indonesia Center

Keterangan foto: Ilustrasi kelapa sawit dan batu bara.

DOWNLOADS


Cover Siran Pers Ekspor Sawit dan Batu Bara Tergerus Secara Volume, Surplus Perdagangan Rawan Tertekan.png

Press Release - Ekspor Sawit dan Batu Bara Tergerus Volume, Surplus Perdagangan Rawan Tertekan

Download

Ringkasan
• Neraca perdagangan kembali surplus

Juli 2026 mencatat surplus US$120 juta setelah defisit US$450 juta pada Juni. Secara kumulatif Januari-Juli, surplus mencapai US$3,70 miliar.
• Nilai ekspor naik, volume justru turun
CPO, batu bara, serta besi dan baja menyumbang 28,62% ekspor nonmigas, tetapi ketiganya mengalami penurunan volume pengiriman. Kenaikan nilai ekspor lebih banyak ditopang harga global.
• DSI perlu memperkuat tata kelola ekspor
Integrasi data, pengawasan devisa, kepastian regulasi, dan percepatan hilirisasi dinilai penting untuk menjaga penerimaan devisa serta daya saing industri.

NEXT Indonesia Center - Neraca perdagangan Indonesia periode Juli 2026 mencatatkan surplus sebesar US$120 juta. Capaian ini menjadi momentum pemulihan setelah pada bulan sebelumnya, Juni 2026, neraca perdagangan mengalami defisit US$450 juta.

Sementara secara kumulatif, neraca perdagangan sepanjang Januari–Juli 2026 masih membukukan surplus sebesar US$3,70 miliar. Capaian tersebut ditopang oleh surplus sektor nonmigas yang mencapai US$22,45 miliar, meskipun tergerus oleh defisit sektor migas sebesar US$18,75 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan periode Januari–Juli 2026 mengalami peningkatan dari sisi nilai, tapi sebenarnya mengalami penurunan dari sisi volume. Nilai ekspor CPO dan turunannya (HS 1511) angkanya mencapai US$14,79 miliar atau tumbuh 5,49%, tetapi volume pengirimannya terkoreksi 0,97% menjadi 13,51 juta ton. Pola serupa terjadi pada batu bara (HS 2701), dengan nilai ekspor naik 4,75% dengan nilai mencapai US$14,47 miliar, namun secara volume pengirimannya mengalami penurunan sebesar 6,17% menjadi 201,47 juta ton. Sedangkan nilai ekspor besi dan baja (HS 72) mencapai US$16,54 miliar atau meningkat 2,77%, dengan volume pengiriman turun 5,77% menjadi 12,37 juta ton.

“Ketiga komoditas nonmigas unggulan tersebut memberikan andil 28,62% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–Juli 2026. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor saat ini masih mendapat dukungan dari pergerakan harga global, mengingat nilai ekspor tetap tumbuh di tengah penurunan volume pengiriman,” ujar Direktur NEXT Indonesia Center Christiantoko di Jakarta, Minggu (06/09/2026).

Menanggapi dinamika tersebut, Ia menekankan pentingnya peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) ke depan dalam merumuskan kebijakan tata kelola dan pengawasan ekspor komoditas strategis yang lebih adaptif.

“Ketiga komoditas ini menyumbang hampir 29% dari total ekspor nonmigas kita. Ini harus menjadi catatan evaluasi penting bagi DSI di masa transisi saat ini. Kebijakan pengawasan dan integrasi data ekspor yang diambil DSI harus benar-benar difokuskan untuk memperkuat daya saing serta mengawal kepastian industri komoditas penopang utama ini,” ujar Christiantoko.

Ia menambahkan bahwa penurunan volume ekspor tidak boleh direspons secara reaktif dengan menekan impor bahan baku manufaktur secara berlebihan, melainkan dengan mempercepat transformasi hilirisasi dan meningkatkan efisiensi pengawasan devisa.

“Kenaikan impor saat ini didominasi oleh bahan baku dan barang modal yang sangat dibutuhkan industri dalam negeri. Oleh karena itu, di tengah penataan peran DSI sebagai single window tata kelola perdagangan, percepatan hilirisasi produk bernilai tambah tinggi menjadi kunci utama untuk mempertahankan penerimaan devisa di tengah keterbatasan volume ekspor komoditas mentah,” lanjutnya.

Melalui penguatan fungsi DSI selama masa transisi ini, pemerintah diharapkan mampu menciptakan kepastian regulasi, efisiensi rantai pasok, dan pengawasan devisa hasil ekspor yang lebih transparan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Related Articles

blog image

Tingkatkan Tata Kelola Ekspor Komoditas Strategis, Langkah DSI Perkuat Sistem Data Dinilai Tepat

DSI menyiapkan 8 analitik mengintegrasikan data ekspor komoditas strategis, mendeteksi penyimpangan dan memperkuat pengawasan serta penerimaan negara.

Selengkapnya
blog image

Anomali Surplus Beras RI, Stok Aman tapi Harganya Melonjak

Indonesia dinilai sudah swasembada beras, tetapi harga di sejumlah sentra produksi masih melampaui HET dan beras premium sulit ditemukan di ritel.

Selengkapnya
blog image

Anomali Surplus Beras

Stok beras nasional dinilai cukup, tetapi harga premium masih melampaui HET dan pasokan ritel terbatas, terutama di sejumlah daerah lumbung.

Selengkapnya